edit template

49 Mewarnai Gambar Ikan

Berikut dibawah ini ada 49 gambar ikan yang bisa diwarnai unuk anak TK dan SD jika berminat silahkan download
GBE-001 GBE-002 GBE-003 GBE-004

GBE-005 GBE-006 GBE-007 GBE-008

GBE-009 GBE-010 GBE-011 GBE-012

GBE-013 GBE-014 GBE-015 GBE-016

GBE-017 GBE-018 GBE-019 GBE-020

GBE-021 GBE-022 GBE-023 GBE-024

GBE-025 GBE-026 GBE-027 GBE-028

GBE-029 GBE-030 GBE-031 GBE-032

GBE-033 GBE-034 GBE-035 GBE-036

GBE-037 GBE-038 GBE-039 GBE-040

GBE-041 GBE-042 GBE-043 GBE-044

GBE-045 GBE-046 GBE-047 GBE-048

GBE-049
 Keyword", download gambar mewarnai, gambar mewarnai hewan, mewarnai gambar sekolah tk, gambar mewarnai anak sd, contoh gambar mewarnai, gambar mewarnai kartun anak, gambar mewarnai buah

Naskah Khutbah 'Idul Adha 1441 H.

Naskah Khutbah 'Idul Adha 1441 H.

KETAATAN TOTAL TERHADAP SYARIAH KONSEKUENSI KEIMANAN

Khutbah Pertama

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ
اللهُ اَكْبَرُ كَبِيْراً وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْراً وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَإلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ، اللهُ اَكْبَرُ وِللهِ الْحَمْدُ.
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْيَوْمَ عِيْداً لِلْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحَّدَنَا بِعِيْدِهِ كَأُمَّةٍ وَاحِدَةٍ، مِنْ غَيْرِ الأُمَمِ، وَنَشْكُرُهُ عَلَى كَمَالِ إِحْسَانِهِ وَهُوَ ذُو الْجَلاَلِ وَاْلإِكْراَمِ. 
أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ، اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاء وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاء وَتُعِزُّ مَن تَشَاء وَتُذِلُّ مَن تَشَاء بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ. 
الَلَّهُمَّ صَلِّ وَاُسَلِّمُ عَلَى حَبِيْبِناَ المُصْطَفَى، الَّذِّي بَلَّغَ الرِّسَالَةَ، وَأَدَّى الأَمَانَةَ، وَنَصَحَ الأُمَّةَ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ دَعاَ اِلَى اللهِ بِدَعْوَتِهِ، وَجاَهَدَ فِيْ اللهِ حَقَّ جِهاَدِهِ. 
اَمَّا بَعْدُ: عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: ﴿يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ﴾

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهَ الحَمْدُ 

Kaum Muslim rahîmakumulLâh.
Hari ini, umat Islam di seluruh dunia telah disatukan oleh Allah SWT sebagai satu umat. Kita merayakan Hari Raya 'Idul Adha bersama-sama, sebagai umat Islam. Bukan sebagai bangsa Arab, Afrika, Eropa, Amerika, Australia maupun Asia. Kita merayakan hari agung yang suci ini sebagai satu umat. Kita diikat oleh akidah yang sama. Kita pun diatur dengan hukum yang sama. 
Sayang, kesatuan umat ini hanya sesaat. Begitu selesai mengerjakan shalat Idul Adha dan menunaikan ibadah haji, kesatuan itu pun sirna. Lebih dari satu setengah miliar umat Islam yang kini tengah merayakan 'Idul Adha itu pun kembali menjadi buih. Tak berdaya menghadapi berbagai persoalan yang terus-menerus menimpa mereka. Perpecahan, pertikaian, perselisihan, pelanggaran hak-hak kemanusiaan, ketidakadilan, kemiskinan dan berbagai problem lainnya begitu nyata di depan mata.

Hadirin rahîmakumulLâh.
Hari ini kita berbahagia. Bahagia karena masih memiliki harapan dengan amal salih yang kita lakukan. Setelah selesai kita melakukan ibadah Hari Arafah, juga mengisi sepuluh hari Dzulhijjah dengan berbagai amal shalih, kita merayakan Idul Qurban. Kita berharap semoga Allah SWT membebaskan kita dari azab api neraka. Semoga Allah SWT pun memasukkan kita ke dalam surga-Nya yang penuh dengan kenikmatan.
Kita juga berbahagia menyaksikan kaum Muslim mengagungkan Allah SWT. Mereka berbondong-bondong untuk menunaikan shalat Id berjamaah. Mereka bersimpuh bersama mendengarkan khutbah ini. 
Realitas ini menunjukkan kepada kita bahwa inilah jatidiri umat Islam yang sebenarnya. Satu kesatuan yang utuh dan kokoh. Realitas ini pun  menunjukkan bahwa umat ini adalah umat yang satu. Diikat oleh akidah yang sama, akidah Islam. Diatur oleh hukum yang sama, yaitu syariah Islam. Memiliki kitab yang sama, al-Quran al-Karim. Juga menghadap kiblat yang sama, yakni Ka'bah.
  
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهَ الحَمْدُ 

Hadirin Jamaah Idul Adha rahîmakumulLâh.
Pada Hari Idul Adha 1441 H ini, biasanya kita diingatkan dengan peristiwa agung. Itulah pengorbanan Nabi Ibrahim as. dalam menaati perintah Allah SWT untuk menyembelih putranya, Ismail as. Bagi Nabi Ibrahim as., Ismail adalah buah hati, harapan dan cintanya yang telah sangat lama didambakan. Akan tetapi, di tengah rasa bahagia itu, turunlah perintah Allah SWT kepada Nabi Ibrahim as. untuk menyembelih putra kesayangannya itu. Allah SWT berfirman:

﴿قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ﴾
“Anakku, sungguh Aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelih kamu. Karena itu pikirkanlah apa pendapatmu.” (QS ash-Shaffat [37]: 102). 

Menghadapi perintah itu, Nabi Ibrahim as. mengedepankan kecintaan yang tinggi, yakni kecintaan kepada Allah SWT. Ia menyingkirkan kecintaan kepada selain-Nya, yakni kecintaan kepada anak, harta dan dunia.  
Demikian pula dengan Ismail as., putranya. Perintah untuk taat itu disambut oleh Ismail as. dengan penuh kesabaran dan ketaatan. Demikian sebagaimana yang dikisahkan di dalam firman Allah  SWT: 

﴿يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ﴾
“Ayah, lakukanlah apa saja yang telah Allah perintahkan kepada engkau. Insya Allah, engkau akan mendapati aku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS ash-Shaffat [37]: 102).  

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهَ الحَمْدُ 

Ma’âsiral Muslimîn rahîmakumulLâh. 
Kisah Nabi Ibrahim as. dan Nabi Ismail as. tersebut telah menjadi teladan bagi kaum Muslim saat ini. Teladan dalam pelaksanaan ibadah haji dan ibadah kurban. Juga teladan dalam ketaatan, perjuangan dan pengorbanan demi mewujudkan ketaatan pada aturan Allah SWT secara kâffah.   
Ketaatan kepada Allah SWT tentu tidak hanya sebatas pada hukum-hukum ibadah ritual saja, melainkan menaati seluruh syariah Islam yang mulia. Tentu kita yakin bahwa seluruh aturan hukum Islam yang berasal dari Sang Maha Pencipta ini pasti merupakan solusi bagi problematika umat manusia dan pasti mendatangkan maslahat. 
Wujud ketaatan kepada Allah SWT itu adalah penerapan syariah Islam dalam seluruh aspek kehidupan kita: mulai individu, keluarga, ekonomi, pendidikan, politik hingga negara. Sangat tegas Allah SWT memerintah kita agar terikat dengan seluruh aturan Allah SWT secara kaffah! Allah SWT berfirman:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ 
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu musuh yang nyata bagi kalian (QS al-Baqarah [2]: 208).

Saat menjelaskan ayat ini, Imam Ibnu Katsir rahimahulLah berkata, “Allah SWT memerintah para hamba-Nya yang beriman kepada-Nya serta membenarkan Rasul-Nya untuk mengambil seluruh ajaran dan syariah (Islam); melaksanakan seluruh perintah-Nya dan meninggalkan seluruh larangan-Nya sesuai kemampuan mereka.” (Tafsir Ibn Katsir, 1/565).
Patut diingat, ketaatan total terhadap syariah secara kaffah itu merupakan konsekuensi keimanan. Hal ini didasarkan pada banyak dalil al-Quran maupun as-Sunnah. Di antaranya adalah firman Allah SWT:

 فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka atas putusan yang telah engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya (QS al-Nisa` [4]: 65).

  Ayat ini dengan jelas menafikan keimanan seseorang hingga dia mau menjadikan Rasul saw. sebagai hakim dalam semua urusannya, disertai dengan sikap tunduk dan pasrah terhadap keputusan tersebut. Itu artinya, keimanan meniscayakan ketaatan pada syariah secara kaffah. 
Sungguh tidak pantas seorang Mukmin menolak penerapan syariah Islam secara kaffah, secara total. Termasuk menolak apalagi sampai mengkriminalkan sebagian ajaran Islam, ajaran Islam tentang jihad dan Khilafah. Misalnya, Khilafah dituduh mengancam bangsa dan disamakan dengan ajaran Komunisme. Padahal Komunisme itu anti Tuhan, anti agama dan  anti ulama!

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهَ الحَمْدُ

Ma’âsiral Muslimîn rahîmakumulLâh.
Tentang jihad, amat banyak ayat dan hadis yang memerintahkan amalan mulia ini. Di antaranya adalah sabda Rasulullah saw.:

« رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ »
Pokok semua perkara adalah Islam.  Tiangnya adalah shalat. Puncaknya adalah jihad di jalan Allah (HR at-Tirmidzi dan Ahmad).

Kemuliaan dan keagungan jihad juga diterangkan dalam hadis dari Abu Hurairah ra. Disebutkan bahwa pernah ada seorang sahabat Rasulullah saw. melewati satu lembah yang memiliki mata air yang sangat jernih sehingga sangat menarik bagi dirinya. Dia pun berkata, “Andai aku ber-‘uzlah dari manusia dan tinggal di lembah ini dan aku tidak akan berbuat sampai Rasulullah saw. mengizinkan aku.”
Lalu hal itu diceritakan kepada Rasulullah saw. Beliau lalu bersabda:

«لاَ تَفْعَلْ، فَإِنَّ مُقَامَ أَحَدِكُمْ فِي سَبِيلِ اللهِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهِ فِي بَيْتِهِ سَبْعِينَ عَامًا، أَلاَ تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَيُدْخِلَكُمُ الجَنَّةَ، اغْزُو فِي سَبِيلِ اللهِ، مَنْ قَاتَلَ فِي سَبِيلِ اللهِ فَوَاقَ نَاقَةٍ وَجَبَتْ لَهُ الجَنَّةُ»
"Jangan engkau lakukan itu. Kedudukanmu di jalan Allah lebih utama daripada shalat yang engkau lakukan di rumahmu selama 70 tahun. Tidakkah engkau ingin agar Allah mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan dirimu ke dalam surga? Karena itu berjuanglah di jalan Allah. Siapa saja yang berjihad di jalan Allah barang sebentar, wajib bagi dia masuk  surga." (HR at-Tirmidzi dan al-Hakim).
  
Lalu bagaimana mungkin ada orang yang mengaku dirinya beriman menolak dan mengkriminalisasi ajaran Islam tentang jihad?
Demikian juga dengan Khilafah. Dalilnya sangat banyak dan jelas. Tak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama mu’tabar tentang kewajibannya. Al-Imam al-Nawawi rahimahulLah berkata:

وَأَجْمَعُوا عَلَى أَنَّهُ يَجِبُ عَلَى الْمُسْلِمِينَ نَصْبُ خَلِيفَةٍ وَوُجُوبُهُ بِالشَّرْعِ لَا بِالْعَقْلِ
Mereka (para ulama) bersepakat bahwa wajib atas kaum Muslim untuk mengangkat seorang khalifah. Kewajiban ini berdasarkan nas syariah. Bukan berdasarkan logika (Syarh an-Nawawi ‘alâ Muslim, 12/205).

Lalu bagaimana bisa ada orang yang mengaku dirinya Muslim memusuhi Khilafah yang juga merupakan ajaran agamanya sendiri?

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهَ الحَمْدُ 

Ma’âsiral Muslimîn rahîmakumulLâh.
Islam adalah agama dari Allah SWT. Semua ajarannya benar. Tak perlu ditakuti. Tak boleh dianggap ancaman. Islam dan syariahnya justru untuk memperbaiki kehidupan manusia. Itulah juga yang dipraktikkan oleh Rasulullah saw.
Rasulullah saw. hadir di tengah masyarakat dengan membawa Islam. Tentu untuk membebaskan manusia dari beban penderitaan yang membelenggu mereka, mencerdaskan mereka, memperbaiki masyarakat dan menebarkan rahmat bagi semesta alam. Beliau juga datang untuk menghancurkan tirani kezaliman dan rezim kediktatoran manusia. 
Semestinya, itu pula yang harus dilakukan oleh umatnya. Seorang Muslim tidak boleh bersikap cuwek dengan kondisi masyarakat. Sebaliknya, hendaknya ia dengan penuh keberanian hidup dan beramal di tengah masyarakatnya, mempertahankan dan menyampaikan kebenaran keyakinannya kepada orang lain dan penguasa zalim, serta menjadi saksi atas realitas kehidupan manusia. 
Dalam kondisi sekarang, kaum Muslim juga wajib berjuang keras melenyapkan sistem kufur yang membelenggu mereka seperti kapitalisme, liberalisme, sekularisme, sosialisme dan komunisme. Lalu mereka harus menggantikan semua itu dengan syariah Islam. Syariah Islam pasti menghadirkan kedamaian dan ketenteraman, mewujudkan kesejahteraan, serta mendidik manusia agar memiliki kesantunan-akhlak mulia. 
  Seorang Muslim harus peduli terhadap keadaan lingkungan sekitarnya. Sebagai contoh, ia tidak membiarkan tetangganya kelaparan, sementara dia tahu. Rasulullah saw. bersabda:

« مَا آمَنَ بِيْ مَنْ بَاتَ شَبْعَانً وَ جَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ وَ هُوَ يَعْلَمْ بِهِ »
Tidak beriman kepadaku orang yang tidur kenyang, sementara tetangganya kelaparan dan dia tahu (HR ath-Thabarani dan al-Bazzar).

Selain gemar beribada kepada Allah SWT, seorang Muslim juga seharusnya peduli kepada sesamanya dan menyayangi mereka. Dalam Hadis Qudsi, Allah SWT berfirman: 

«إِنَّمَا أَتَقَبَّلُ الصَّلاةَ مِمَّنْ تَوَاضَعَ بِهَا لِعَظَمَتِي وَلَمْ يَسْتَطِلْ عَلَى خَلْقِي وَلَمْ يَبِتْ مُصِرًّا عَلَى مَعْصِيَتِي وَقَطَعَ نَهَارَهُ فِي ذِكْرِي وَرَحِمَ الْمِسْكِينَ، وَابن السَّبِيلِ وَالأَرْمَلَةَ وَرَحِمَ الْمُصَابَ»
"Aku hanya akan menerima shalat dari orang yang merendahkan diri karena kebesaran-Ku, tidak sombong kepada makhluk-Ku, tidak bermalam seraya mengulangi maksiat kepada-Ku, menghabiskan harinya dalam mengingat-Ku; juga menyayangi orang miskin, ibnu sabil dan para janda, serta mengasihi orang-orang yang tertimpa musibah." (HR al-Bazzar).

Demikian pula memperbaiki hubungan sesama manusia sehingga tercipta perdamaian. Rasulullah saw. bersabda:

«أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَالصَّلَاةِ وَالصَّدَقَةِ؟» قَالُوا: بَلَى، يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ: «إِصْلَاحُ ذَاتِ الْبَيْنِ، وَفَسَادُ ذَاتِ الْبَيْنِ الْحَالِقَةُ»
"Maukah aku beritahu kalian yang lebih utama dari derajat shaum, shalat dan sedekah?” Para Sahabat menjawab,  "Tentu, ya Rasulullah." Beliau lalu bersabda, ”Yaitu mendamaikan dua pihak yang bersengketa, sementara rusaknya hubungan diantara orang itu membinasakan." (HR Abu Dawud).

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهَ الحَمْدُ 

Ma’âsiral Muslimîn rahîmakumulLâh.
  Nyatalah, tak ada yang patut ditakuti dari ajaran Islam. Ini juga dibuktikan dalam sejarah. Islam memiliki peran yang sangat besar dalam membangun peradaban dunia melalui sejarah panjang Khilafah Islam. Mulai dari Khulafaur Rasyidin sampai Khilafah Utsmani. Selama seribu tahun lebih Islam menghadirkan peradaban dunia modern, kedamaian, kesejahteraan, ketenteraman bagi umat manusia yang bermacam suku, bangsa, ras,  agama dan kepercayaan karena syariah Islam yang ditaati.
Islam adalah way of life. Islam adalah pedoman dan solusi bagi kehidupan kita. Islam adalah rahmat bagi semesta alam. Pada titik inilah masyarakat harus didorong untuk mengamalkan Islam dengan sempurna dalam dirinya sendiri, berkeluarga, bermasyarakat dan bernegara. Ketaatan total terhadap syariah Islam, sekaligus mewujudkan penerapannya secara kaffah dalam Khilafah Islam, adalah konsekuensi keimanan kita sebagai Muslim.
Kini saatnya kita menghimpun seluruh potensi umat untuk melahirkan generasi shalih dan bertakwa. Insya Allah, generasi hari ini suatu saat akan memimpin manusia menuju kedamaian, berkeadilan dan kesejahteraan dengan syariah Islam yang kaffah. Generasi yang mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamiin dalam naungan Khilafah Islam.
Semoga Allah SWT senantiasa memberi kita hidayah dan taufik-Nya. Semoga Allah SWT menolong kita agar dapat menjadi hamba-Nya yang shalih. Semoga Allah SWT pun memberi kita kemampuan untuk mewujudkan keshalihan, kebaikan dan perbaikan di tengah umat serta menerapkan syariah-Nya secara kaaffah.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهَ الحَمْدُ، أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَللهُ أكْبَرُ، اَللهُ أكْبَرُ، اَللهُ أكْبَرُ 
اَللهُ أكْبَرُ، اَللهُ أكْبَرُ، اَللهُ أكْبَرُ، اَللهُ أكْبَرُ 
اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً، لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللَّهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ، 
لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللَّهُ، اللهُ أكْبَرُ، اَلله أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ.
أَشْهَدُ ألاَّ إِلَهَ إِلاًّ الله وَحْدَه لاَشَرِيْكَ لَه وأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَ بَعْدَهُ. 
اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَمَّا بَعْدُ:
فَيَا مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ الله، أُوصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَا اللهَ فَقْدْ فَازَ الْـمُتَّقُوْنَ.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهَ الحَمْدُ
Marilah kita memohon kepada Allah SWT. semoga Allah SWT mengabulkan seluruh permohonan kita. Semoga Allah SWT pun memberi kita kesabaran dan keikhlasan serta menguatkan ketaatan dan persatuan kaum Muslim dalam perjuangan menegakkan kebenaran dan syariat islam kaaffah sesuai dengan kemuliaan Islam sebagai rahmatan lil ’alamiin. 
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللّهُمَّ صَلِّى وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ اَصْحَابِهِ وَمَنْ دَعَا إِلَى اللهِ بِدَعْوَةِ اْلإِسْلاَمِ وَمَنْ تَمَسَّكَ بِسُنَّةِ رَسُوْلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحسْاَنٍ اِلى يَوْمِ الدِّيْنِ. وَاِجْمَعْنَا وَإِيَّاهُمْ فِيْ ظِلِّ رِضْوَانِكَ وَرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَ لِوَالِدَيْنَا وَ ارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَ صِغَارًا. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ الأَمْوَاتِ. إِنّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ، فَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. 
اللَّهُمَّ اصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنا، وَ اصْلِحْ لنا دُنْيَانا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَ اصْلِحْ لنا آخِرَتَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنا، وَ اجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.
اللّهُمَّ اجْعَلْ عَمَلَنَا عَمَلًا صَالِحًا مُتَقَبَّلًا، مُوَافِقًا بِأَحْكَامِكَ وَخَالِصًا لِوَجْهِكَ
اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الْأُمُوْرِ كُلِّهَا، وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الأَخِرَةِ
اَللَّهُمَّ اِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَسِ وَالْجُنُوْنِ وَالْجُذَامِ وَشَيِّءِ الْأَشْقَمِ، اَللّهُمَّ جَنِبْنَا هَذَا الْوَبَاءَ كُوْرُوْنَا وَاِرْفَعْهُ عَنَّا، اَللَّهُمَّ اِرْفَعْ عَنَّا الْوَبَاءَ وَالْبَلاَءَ وَالْغَلاَءَ وَالْفَخْشَاءَ وَالْفِتَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، إِنَّكَ أَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِيْنُكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ وَلاَ نَكْفُرُكَ، وَنُؤْمِنُ بِكَ وَنَخْلَعُ مَنْ يَفْجُرُكَ. اَللَّهُمَّ عَذِّبِ الْكَفَرَةَ الذِّيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ، وَيُكَذِّبُوْنَ رُسُلَكَ، وَيُقَاتِلُوْنَ أَوْلِيَاءَكَ.
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ، اَللَّهُمَّ سَلِّمْنَا وَالْمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ وَأَهْلِكْ أَعْدَائَكَ وَأَعْدَاءَنَا وَ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ وَ قَتَلَ  اْلمُؤْمِنِيْنَ، يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ مَنْ أَرَادَنَا وَأَرَادَ بِهَذَا الدِّيْنِ خَيْرًا فَوَفِّقْهُ كُلَّ الْخَيْرِ، وَمَنْ أَرَادَنَا وَأَرَادَ بِهَذَا الدِّيْنِ شَرًّا فَخُذْهُ اَخْذَ عَزِيْزٍ مُقْتَدِرٍ فَإِنَّهُ لاَ يُعْجِزُكَ يَا رَبُّ.
اَللَّهُمَّ اجْعَلْ بِلاَدَنَا هَذَا وَسَائِرَ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ سَخَاءً رَخاَءً، اَللَّهُمَّ مَنْ أَرَادَ بِناَ سُوْأً فَاَشْغِلْهُ فِي نَفْسِهِ وَمَنْ كَادَنَا فَكِدْهُ وَاجْعَلْ تَدْمِيْرَهُ تَدْبِيْرَهُ. اَللَّهُمَّ اجْعَلْناَ فِيْ ضَمَانِكَ وَأَمَانِكَ وَبِرِّكَ وَاِحْسَانِكَ وَاحْرُسْ بِعَيْنِكَ الَّتِيْ لاَ تَناَمُ وَاحْفَظْناَ بِرُكْنِكَ الَّذِيْ لاَ يُرَامُ.

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةَ الرَّاشِدَةَ عَلَى مِنْهَاجِ نَبِيِّكَ، تُعِزُّ بِهَا الْإِسْلَامَ وَاَهْلَهُ، وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَطُغْيَانَهُ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَيَاخَيْرَ النَّاصِرِيْنَ. 
رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا اِنْ نَّسِيْنَآ اَوْ اَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْلَنَا وَارْحَمْنَا اَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَاِفِرِيْنَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَسُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، 
كُلُ عَامٍ وَ أَنْتُمْ بِخَيْرٍ آمين.

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Khutbah kang kawitan Boso Jowo Idul Adha

*Khutbah kang kawitan Boso Jowo Idul Adha*

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ.   اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَمَاتَ وَ أَحْيَى. اَلْحَمْدُ للهِ الًّذِيْ أَمَرَنَا بِالتَّقْوَى وَ نَهَانَا عَنِ اتِّبَاعِ الْهَوَى. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ جَعَلَ لَنَا عِيْدَ الْفِطْرِ وَ اْلأَضْحَى. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ  نِعْمَ الْوَكِيل وَنِعْمَ الْمَوْلَى، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَ مَنْ يُنْكِرْهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيدًا.

وَ صَلَّ اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا وَ حَبِيْبِنَا الْمُصْطَفَى، مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الْهُدَى، الَّذِيْ لاَ يَنْطِقُ عَنْ الْهَوَى، إِنْ هُوَ إِلاَّ وَحْيٌ يُوْحَى، وَ عَلَى اَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدقِ وَ الْوَفَا. اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَنْ اِتَّبَعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْجَزَا.

أَمَّا بَعْدُ: فَيَاأيُّهَا الإِخْوَان، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمْ وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ. وقَالَ أَيْضاً إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ. صَدَقَ اللهُ العَظِيمْ

Jamaah shalat Idul Adha hadâkumullâh,

Wonten kaleh perkawis ingkang mboten saget lepas kalian Hari Raya Idul Adha, Injih Puniko Ibadah haji kalian Ibadah Kurban. Ananging ibadah-ibadah kolo wau kedah kito lampahi wonten ingdalem kahanan pandemi covid-19 ingkang dugi sakmwniko wekdal dereng reda.

Ketentuan saking Allah Subhanahu wata’ala ingkang kados meniko ampun ngantos ndadosaken semangat spiritual ibadah kita berkurang. Kito kedah yakin bilih situasi ingkang kados meniko tentu wonten hikmah ingkang agung saking Allah Subhanahu Wata’ala.

Kita sedoyo mengertosi akibat covid-19 ingkang melanda dunia wekdal meniko, Jamaah Haji Indonesia tahun 2020 mboten sios dipun budalaken. Tindakan pemerintah ingkang kados meniko mboten lentu keranten pemerintah pengen njagi keselamatanipun jiwa jamah haji saking terlulare virus corona.

Pemerintah Arab saudi pun mboten paring ijin dumateng jamaah haji saking luar negeri kagem nglampahi Rukun Islam ingkang nomer gangsal meniko.

Namung warga saudi piyambak kalian warga asing ingkang wonten saudi saat meniko ingkang dipun izinaken nglaksanaaken ibadah haji kanti peraturan lan persyaratan ingkang ketat sanget.

Kagem calon jamaah haji ingkang sedianipun tindak tahun meniko, tentu keputusan meniko ndadosaken kirang sekecanipun manah, sebab dangunipun ngrantos antrean kalian sedoyo jerih payah usaha sampun dipun lampahi damel nglunasi ONH ternyata dumugi wekdalipun tindak, kedah mengalami penundaan.

Namun Ampun supe bilih kejadian ingkang kados meniko anggadahi hikmah ingkang ageng sanget, salah satunggalipun kesabaran kalian Kepasrahan.

Allah subhanahu wata’ala sampun ngendiko wonten Al-Qur’an Surat Al-Anfal ayat 46:

وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ  

“Podo sabaro siro kabeh, saktemene Gusti Allah bareng kalian tiyang ingkang sabar”. 

Jamaah shalat Idul Adha Rahimakumullâh,

Salah setunggalipun sikap ingkang paling dibetahaken nalikane nglampahi ibadah haji inggih meniko kesabaran. Kesabaran saget dados tolak ukur mabrur mbotenipun ibadah haji. Meh sedoyo proses ibadah haji mbetahaken kesabaran, milai saking pendaftaran, pelaksanaan, dumgi kondur wonten tanah air meniko.

Tanpo kesabaran jamaah haji mboten bakal mungkin mampu nglampahi sedoyo rangkaian ibadah haji ingkang mbetahaken kekuatan fisik kaleh mental kados thowaf, sa’i, wukuf wonten arafah lan mbalang jumrah.

Insya Allah kesabaranipun poro calon jamaah haji ingkang mengalami penundaan saget ndadosaken wasilah mabruripun haji ingkang bakal dugi sak mangkeh.

Hikmah ingkang nomer kaleh inggih puniko kepasrahan utawi tawakal dumateng sedoyo ketentuanipun Gusti Allah Subhanahu Wata’ala. Terkait meniko Allah subhanahu wata’ala sampun paring panduan, nalikane kito anggadahi tekad bulat nglampahi setunggal perkawis, kita kedah pasrah dumateng Allah subhanahu wata’ala.

Hal ingkang kados meniko termaktub wonten QS Ali Imran ayat 159:

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Nalikane sliramu nduwene tekad bulat, mongko Tawakkalo marang Allah. Saktemene Allah iku Tresno marang wongkang podo tawakal.”

Dengan ditunda nipun haji tahun meniko, poro jamaah haji kedah anggadahi keyakinan lan pasrah dumateng Allah, keranten ingkang kados meniko mboten lentu injih katetepanipun Gusti allah. Haji piyambak merupakan ibadah ingkang di awali kalian manah ingkang pasrah keranten kedah kesah tebih ninggalaken tiyang-tiyang ingkang dipun tresnani, kedah berjuang ngrampungaken sedoyo rukun lan wajib haji.

Kain Ihram ingkang werni putih ingkang dipun agem poro jamaah haji meniko saget damel tondo bilih poro jamaah haji meniko pasrah dumateng takdir Allah Subhanahu Wata’ala kados dene mayit ingkang dipun bungkus kain mori.

kanti kepasrahan meniko tentu ndadosaken jamaah haji lengkung tenang ing ndalem ngibadahipun.

Jamaah shalat Idul Adha hadākumullâh

Ibadah nomer kaleh ingkang kita lampahi wonten kondisi ting tengah-tengah pandemi injih meniko ibadah Qurban. Ibadah qurban meniko langkung keraos manfaatipun kagem masyarakat ingkan sakmeniko kengeng imbasipun covid 19.

Katah masyarakat ingkang mboten saget memenuhi kebutuhanipun akibat pendemi puniko. Katah ingkang mboten saget pados pangupo jiwo, katah ugi tiyang-tiyang ingkang kelangan pendamelanipun.

Kurban saget dados bukti kepekaan sosial masyarakat ingkang mampu dumateng masyarakat ingkang lemah. Ibadah kurban nyadaraken kito bilih harta ingkang kito gadahi mboten sepenuhnya milik kito, Harta kalian materi ingkang wonten dunyo puniko namung titipanipun Gusti Allah. ingkang ting mriku wonten hak-hak ipun tiyang lentu

Kenikmatan ingkang kita raosaken mboten bakal kirang sekedik mawon nalikane dipun bagi kalian tiyang lentu melalui pembelian hewan kurban. kita kedah sadar bilih hakikatipun maringi sami kalian nampi.

Menungso mboten perlu khawatir keranten nikmat Allah subhanahu wata’ala puniko katah sanget. Saking katahipun nikmat Allah, kita mboten bakal saget ngetang. Allah subhanahu wata’ala sampun ngendiko:

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

“Lan lamun siro ngetung-ngetung nikmate Gusti Allah, Yektine siro ora bakal iso milang-milang jumlahe. Saktemene Gusti Allah estu Moho paring pangapuro lan Maha welas asih”. (QS: An-Nahl : 18)

Pengorbanan harta lewat hewan kurban meniko, kita berusaha nyedak dumateng Gusti Allah subhanahu wata’ala. Meniko selaras kalian makna kurban, yakni saking asal kata bahasa Arab qariba-yaqrabu -qurban wa qurbanan wa qirbanan, ingkang arosipun cedak. Sehinggo kurban anggadahi makna mendekatkan diri kepada Allah.

Jamaah shalat Idul Adha hadâkumullâh,

Dengan Ibadah kurban wonten ing masa pandemi puniko, kita saget mendet kaleh hikmah. Ingkang pertama hikmah vertikal, yakni soyo caket kita kalian Allah subhanahu wata’ala.

Hikmah nomer kaleh, hikmah horizontal yakni soyo caket kalian sesama manusia kanti lantaran berbagi rezeki wonten ing tengah masa sulit pandemi meniko. Wallahu a’lam.  

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

*Khutbah Kapindho*

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ

اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ